Search

Memaparkan catatan dengan label Hukum. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Hukum. Papar semua catatan

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya'ban

0 comments

Segala puji bagi Allah swt yang telah menyempurnakan agamaNya dan mencukupkan nikmatNya untuk kita , serta selawat dan salam semoga sentiasa tercurah atas Nabi dan Rasul Nya Muhammad saw , yang sentiada bertaubat dan pembawa rahmat .

Firman Allah swt : " Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama mu , dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk mu , dan telah Aku redo' islam sebagai agama bagi mu: . Al Maidah 3

Firman Allah swt : " Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah" . As Syura 21

Didalam Shahih Bukhari dan Muslim , Aisyah meriwayatkan bahawa Rasullullah bersabda :
" Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami maka hal itu akan ditolak ( tidak diterima) .

Dalam shahih Muslim dari Jabir bahawa Nabi saw bersabda: "
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an , sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad , sejelek-jelek perkara adalah hal-hal yang diada-adakan didalam agama (bid'ah) , dan setiap bid'ah itu adalah sesat"

Banyak lagi ayat dan hadith lain yang senada dengan ayat dan hadith diatas , yang secara tegas menunjukan bahawa Allah swt telah mnyempurnakan agama dan nikmatNya untuk umat ini , dan Rasullullah saw sebelum wafatnya telah menyampaikan secara lengkap dan jelas kepada umat semua apa yang disyariatkan Allah , baik berupa perkataan maupun amal perbuatan .

Rasullullah saw juga menjelaskan , bahawa apa saja yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang sesudahnya dan mereka nisbahkan kepada islam baik berupa perkataan maupun amal perbuatan , maka semua itu adalah bid'ah yang ditolak dan tidak diterima , sekali pun diada-adakan oleh pelakunya atas niat dan tujuan yang baik . Hal ini telah diketahui oleh para sahabat dan para ulama yang datang setelah mereka . Oleh kerana itu , mereka mengingkari segala bentuk bid'ah dan mengingatkan manusia untuk tidak terjerumus kedalamnya , sebagimana yang tertera dalam karya-karya Ibnu Wadhdhah ,Thurtusyi , Abu Suamah dan lainnya , tentang pengangungan Sunnah dan pengingkaran terhadap bid'ah .

Diantara bid'ah yang diada-adakan oleh sebagian orang adalah memperingati malam pertengahan Sya'ban , serta mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa . Pada hal tidak ada satu dalil yang dapat dijadikan sebagai landasannya . Memang ada beberapa hadith lemah yang menjelaskan fadilahnya , namun tidak boleh dijadikan landasan .
Sedangkan hadith hadith yang menjelaskan keutamaan solat pada hari itu semuanya adalah palsu . Berikut ini , akan kita paparkan sebagian dari komentar mereka . Terdapat juga beberapa atsar dari sebagian salaf dari kalangan penduduk Syam dan selain mereka .

Telah menjadi kesepakatan jumhur ulama bahawa memperingati malam tersebut adalah bid 'ah . Hadith hdith yang menjelaskan tentang keutamaan adalah dho'if ( lemah) , bahkan sebagiannya adalah palsu , seperti yang diungkapan oleh Ibnu Rajab dalam bukunya " Latha-iful Ma'arif" dan lainya . Hadith dho'if, baru boleh diamalkan , dalam hal ibadah yang sudah ada dasarnya dari hadith -hadith shahih , sedangkan memperingati Nishfu Sya'ban tidak ada satu pun dasar dari hadith yang shahih , sehingga boleh dijadikan alasan untuk mengamalkan hadith dho'if tersebut . Kaedah ini disebutkan oleh Syeikhul Islam Abul' Abbas Ibnu Taimiyyah .

Para ulama telah sepakat , bahawa kita wajib mengembalikan seluruh permasaalahan yang diperselisihkan kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasullullah saw . Apa yang tertera dalam keduanya atau salah satunya , itulah syariat yang wajib diikuti , dan apa saja tidak tertera dalam keduanya , adalah bid'ah yang tidak boleh diamalkan , apalagi
menganjurkan orang lain untk melakukannya .

Firman Allah swt : " Hai orang-orang yang beriman , taatilah Allah , dan taatilah RasulNya dan Ulul Amri ( pemimpin) diantara kamu" . An Nisa 59

Firman Allah swt : " Tentang sesuatu apa pun kamu perselisihkan , maka keputusannya terserah kepada Allah " Asy Syura 10 .

Firman Allah swt : " Katakanlah :" Jika kamu benar-benar mencintai Allah , ikutlah aku , niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" . Ali Imran 31 .

Firman Allah swt : " Maka demi TuhunMu , mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan , kemudian tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepunuh hati" An Nisa 59 .

Banyak lagi ayat-ayat lain yang senada dengan itu . Ayat-ayat tersebut dengan tegas menunjukkan kewajiban mengembalikan permasaalahan- permasaalahan yang diperselisihkan kepada Al Qur'an dan Sunnah , serta redo' dengan hukum yang ada pada keduanya . Dan hal itu merupakan perkara yang menyentuh akan soal iman , serta kemaslahatan bagi para hamba didunia dan akhirat kelak .

Al Hafiz Ibnu Rajab dalam bukunya " Laatahiful Ma'arif" dalam masaalah ini menjelaskan sebagai berikut :
" Para tabi'in dari kalangan penduduk Syam , seperti Khalid bin Ma'adan , Makhul . Luqman bin Amir dan lainnya , mereka memuliakan malam Nisfu Sya'ban dan melakukan ibadah sebanyak mungkin padanya . Dari merekalah orang-orang mengambil keutamaan dan kebesaran malam tersebut . Dan menurut satu pendapat , mereka menerima beberapa atsar Israiliyyat .
Tatkala hal ini masyhur bersumber dari mereka di mana mana , para ulama berselisih pendapat dalam menganggapinya . Ada yang menerima dan menyetujui mereka dalam membesarkan malam tersebut seperti sebagian ahli ibadah dari kalangan penduduk Bashrah dan selain mereka . Sedangkan sepakat ulama Hijaz mengingkarinya , seperti 'Atha dari Abi Mulaikah , dan fiqaha (ulama fiqih) Madinah seperti dinukil oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam . Ini adalah pendapat para pengikut Imam Malik dan selain mereka , semua mereka mengatakan itu bid'ah .

Para ulama dari Syam sendiri , berselisih pendapat tentang cara menghidupkan malam tersebut

1 . Disunatkan menghidupkan malam tersebut secara berjemaah dalam masjid . Khalid bin Ma'dan . Lukman bin Amir dan lainya , memakai pakaian yang terbaik pada malam tersebut , memakai harum haruman dan bercelak , lalu mereka beribadah dimasjid . Hal ini disetujui pula oleh Ishak bin Rahawaih , beliau berkata tentang menghidupkannya dimasjid secara berjamaah : " Hal ini tidaklah termasuk bid'ah" , dinukil darinya oleh Al Karmani dalam " Al Masaail" .

2 . Makruh hukumnya berkumpul dimasjid pada malam tersebut , baik untuk solat , bercerita dan berdoa . Tetapi tidak makruh bagi seseorang yang melakukan solat pada malam itu dengan sendirian . Ini adalah pendapat Awza'i , seorang ulama dan ahli fiqih Syam . Pendapat ini insyaAllah lebih dekat kepada kebenaran .

Sedangkan Imam Ahmad , tidak diketahui komentar beliau secara tegas tentang menghidupkan malam Nisfu Sya'ban . Namun dapat ditakhrij dari beliau dua riwayat berdasarkan dua riwayat pendapat beliau dalam masaalah menghidupkan malam dua hari raya untuk ibadah . Dalam satu riwayat beliau mengatakan , tidak mustahab ( dianjurkan) menghidupkan malam tersebut secara berjemaah , kerana hal itu tidak ada sama sekali dinukil dari Nabi saw dan juga para sahabat .
Dalam riwayat lain ,beliau mengatakan hal itu mustahab , berdasarkan apa yang dilakukan oleh Abdul Rahman bin Yazid bin Aswad dari kalangan tabi'in . Begitu pula halnya dengan menghidupkan malam Nisfu Sya'ban untuk beribadah , tidak ada dunukil dari Nabi saw dan juga para sahabat , hanya saja sekelompok tabi'in dari kalangan ulama Syam pernah melakukan .

Demikianlah secara ringkas perkataan Al Hafiz Ibnu Rajab dalam masaalah tersebut . Secara tegas beliau mengatakan bahawa tidak ada sama sekali dunukil dari Nabi saw dan para sahabat tentang beribadah secara khusus pada malam Nisfu Sya'ban . Sedangkan pendapat Awza'i tentang dianjurkannya beribadah pada malam tersebut secara perseorangan , dan dinukil oleh Al Hafiz Ibnu Rajab adalah lemah , kerana segala sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam syariat , maka hal itu tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim , baik secara berjemaah atau bersendirian , baik secara bersembunyi atau pun terang-terangan , berdasarkan sabda Rasullulah saw :
" Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan perentah kami , maka amalan itu akan ditolak" .

Dan dalil-dalil umum lainnya , yang menunjukkan pengingkaran terhadap perbuatan bid'ah dan menghindarinya . Imam Abu Bakar Ath Tharthusyi dalam bukunya " Al Hawadith Wal Bida" mengatakan : " Ibnu Wadhdhan meriwayatkan dari Zaid bin Aslam , beliau berkata : Kami tidak mendapatkan seorangpun diantara guru dan ulama kami yang memberikan perhatian khusus kepada malam Nisfu Sya'ban . Mereka juga tidak berhujjah kepada hadith Makhul dan tidak pula melihat adanya keutamaan khusus beribadah pada malam tersebut .

Seseorang mengatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah , bahawa Ziyad An Numairi berkata: "Sesungguhnya pahala beribadah pada malam Nisfu Sya'ban sama dengan pahala beribadah pada malam LailatulQadar" . Beliau menjawab
: Kalaulah aku yang mendengarnya kemudian ditanganku ada tongkat , niscaya akau akan memukulnya . Zaid terkenal sebagi seorang ahli bercerita" .

Imam Asy Syaukani dalam bukunya " Al Fawaid Majmu'ah" berkata : " hadith yang berbunyi :
" Hai Ali ! Barangsiapa yang melakukan solat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban , yang mana pada setiap rakaat membaca Alfatihah dan surah Al Ikhlas sebanyak sepuluh kali , maka Allah akan memenuhi semua hajatnya" .
Hadith tersebut adalah palsu , dari lafaz yang menerangkan ganjaran pahala bagi pelakunya . Seorang yang berakal tidak akan meragukan akan kepalsuannya ., disamping sanadnya yang majhul (tidak dikenali) . Hadith ini juga diriwayatkan dari dua jalur sanad yang lain . Tetapi semunya adalah palsu dan para rawinya majhul (tidak dikenali) . Dalam bukunya "Al Mukhtashar" Imam Syukani berkata : " Hadith tentang solat pada Nisfu Sya'ban adalah bathil . Apapun riwayat Ibnu Hibban dari Ali : " Apabila datang malam Nisfu Sya'ban , maka lakukan qiyamul lail dan berpuasalah pada siangnya " adalah lemah .

Dalam bukunya "Allaali" Imam Suyuti berkata : " Seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban (dengan membaca) Al Ikhlas sepuluh kali" beserta banyak lagi keutamaan lainnya , yang diriwayatkan oleh Dailani dan lainnya adalah palsu ( maudhu) , kebanyakan perawinya pada ketiga jalur sanadnya adalah majhul dan doif" . Dia juga berkata : " Dua belas rekaat dan empat belas rakaat dengan (membaca surah) Al Ikhlas tiga puluh kali (pada setiap) rakkat adalah maudhu "( palsu) .
Sebagian ahli fiqih , seperti pengarang buku " Ihya Ulumuddin" , begitu juga sebagian ahli tafsir tidak berpegang pada hadith tersebut .

Hadith tentang melakukan solat pada malam Nisfu Sya'ban telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sanad yang berbeza-beza . Namun semuanya adalah bathil dan maudhu . Ini tidak bertentangan dengan riwayat Tirmizi dari Aisyah yang menjelaskan perginya Rasullullah saw ke Baqi' dan turunnya Tuhan pada Nisfu Sya'ban kelangit dunia , mengampunkan dosa-dosa manusia sekalipun lebih banyak dari bulu domba Bani Kalb . Kerana pembicaraan disini adalah tentang solat yang dibuat-buat pada malam tersebut . Disamping itu , sanad hadith Aisyah itu lemah dan terputus , begitu juga hadith Ali diatas , yang menganjurkan qiyamul lail pada malam itu . Ini tidak dinafikan kedudukan solat ini sebagai diada-adakan , disamping lemahnya hadith tersebut sebagaimana yang telah diuraikan

Al Hafiz Al Iraqi berkata : " Hadith tentang solat malam Nisfu Sya'ban adalah maudhu dan bohong terhadap Rasullullah saw . Imam Nawawi dalam bukunya " Al Majmu" berkata : " Solat yang dikenal dengan solat Raghaib , yaitu dua belas rakaat antara mabhrib dan isya pada malam jumaat yang pertama dari bulan Rejab , begitu juga solat malam Nisfu Sya'ban seratus rakaat . Kedua-duanya adalah bid'ah yang mungkar .
Janganlah seseorang terpengaroh , kerana keduanya disebutkan dalam buku " Quutul Quluub" dan buku Ihya Ulumuddin" , dan kerana adanya hadith yang menjelaskan keduannya . Kerana semua itu adalah bathil dan juga jangan terpedaya dengan beberapa ulama yang menulis tentang dianjurkannya kedua macam solat tersebut , kerana mereka dalam hal ini adalah salah " .

Syeikh Imam Abu Muhammad Abdur Rahman bin Ismail al Maqdisi telah menulis sebuah buku yang sangat berharga dan bagus sekali tentang kebatilan kedua macam solat tersebut . Perkataan ulama dalam masaalah ini banyak sekali , dan akan sangat panjang lebar kalau kita nukil seluruhnya Semoga apa yang telah kita paparkan , boleh memuaskan para pembaca .

Dari ayat-ayat , hadith dan perkataan ulama diatas , jelaslah bagi siapa yang menginginkan kebenaran , bahawa memperingati dan menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dengan solat dan ibadah lainnya serta mengkhususkan siangnya dengan puasa adalah bid'ah yang mungkar menurut pendapat kebanyakkan ulama , dan tidak ada dasarnya sama sekali dalam syariat .
Bahkan ia merupakan hal yang diada-adakan dalam islam setelah masa para sahabat . Dan cukuplah bagi siapa saja menginginkan yang haq dalam masaalah ini .

Firman Allah swt :" Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu , dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk mu , dan telah Aku redo islam sebagi agama bagimu" . Al Maidah 3

Sabda Rasullullah saw : " Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami tanpa ada dasarnya , maka hal itu akan ditolak ( tidak diterima)"

Sabda Rasullullah saw : " Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jumaat daripada malam-malam lainnya dengan solat , dan janganlah kamu sekalian mengkhusus siang harinya dengan puasa , kecuali kalau adalah puasa yang telah dibiasakan oleh salah seorang kamu"

Seandainya boleh kita mengkhusus suatu amalan untuk ibadah tertentu , tentu malam jumaat lebih patut untuk hal itu daripada malam lain , kerana malam jummat adalah hari yang paling baik daripada hari-hari yang ada , berdasarkan beberapa hadith yang shahih dari Rasullullah saw .
Kalau Rasullullah saw telah melarang kita untuk mengkhusus malamnya dengan ibadah , tentu mengkhususkan malam-malam yang lain dengan ibadah tertentu akan lebih terlarang . Maka tidak boleh mengkhusus malam tertentu dengan ibadah tertentu kecuali berdasarkan hadith shahih yang menunjukkan pengkhususkan tersebut ..

Seperti malam Lailatul Qadar dan malam-malam Ramadhan , tatkala disyariatkan untuk menghidupkan dan memperbanyak ibadah padanya , maka Rasullullah saw mengingatkan , bahkan menggalakan umat untuk melakukan qiyamul lail dimalam-malam tersebut . Dan beliau sendiri melakukannya , sebagaimana yang tertera dalam shahih Bukhari dan Muslim bahawa Nabi saw bersabda : " Barangsiapa yang melakukan qiyam pada (malam-malam) Ramadhan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala) , niscaya Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu . Barangsiapa yang melakukan qiyam pada malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala) , niscaya Allah akan mengampunkan dos-dosanya yang telah lalu" .

Seandainya disyariatkan untuk mengkhususkan ibadah tertentu pada malam Nisfu Sya'ban atau malam jumaat yang pertama dari bulan rejab , atau malam Isra Mi'raj , maka pasti Rasullullah saw menggalakkan umat untuk melakukannya dan Beliau sendiri akan mengamalkan . Dan kalau hal itu ada terjadi , niscaya para sahabat menukilkan kepada umat dan mereka pasti tidak akan menyembunyikannya , kerana mereka adalah sebaik-baik pemberi nasihat setelah para nabi . Semoga Allah meredoi para sahabat Rasulullah saw .

Diatas kita telah ketahui, bahawa tidak ada satupun nukilan yang shahih dari Rasullullah saw dan para sahabat tentang keutamaan malam jumaat pertama dari bulan Rajab , begitu pula malam Nisfu Sya'ban . Maka memperingati kedua merupakan perbuatan bid'ah dalam agama , dan mengkhususkan dengan ibadah tertentu adalah bid'ah yang mungkar . Begitu pula dengan malam kedua puluh tujuh rajab , yang diyakini sebagian orang sebagai malam isra mi'raj , tidak boleh mengkhususkannya dengan ibadah tertentu , begitu pula merayakannya , berdasarkan dalil-dalil diatas .
Ini kalau benar terjadi pada tersebut , padahal menurut , pendapat ulama yang benar , bahawa malam isra mi'raj itu tidak diketahui . Adapun pendapat yang mengatakan terjadinya pada malam kedua puluh tujuh rejab , adalah bahtil , tidak ada hadith shahih yang mendasarinya . Benarlah apa yang dikatakan seorang ulama pujangga : " Sebaik-baik perkara yang dilakukan berdasarkan petunjuk , sedangkan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah perbuatan bid'ah yang diada-adakan" .

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan segenap kaum muslimin , agar sentiasa berpegang teguh kepada sunnah , dan terhindar daripada menyalahinya , sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia . Dan semoga selawat dan salam sentiasa tercurah kepada hamba dan Rasulnya , Nabi Kita Muhammad saw , begitu pula kepada keluarga dan seluruh sahabat .

Wallahu Alam .

Dalil Judi Haram

0 comments

Judi Adalah Haram



Di sisi para fuqaha, judi dikenali sebagai Al-Maisir dan Al-Qimar. Ia bermaksud permainan yang mengandung unsur taruhan dan orang yang menang dalam permainan itu berhak mendapat taruhan tersebut[1].



Judi adalah haram dalam Islam. Ini berdasarkan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah. Allah taala berfirman yang bermaksud



“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi (Al-Maisir), katakanlah bahawa pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (Al-Baqarah : 219)



“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (Al-Maisir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib adalah rijs (najis, perbuatan keji) termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum khamar) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan solat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakannya).” (Al-Maidah : 90 – 91)



Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud



“Barangsiapa berkata kepada saudaranya marilah kita bermain judi, maka hendaklah dia bersedekah.” (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)



Berdasarkan dalil-dali di atas dapat disimpulkan bahawa Islam menjadikan judi sebagai satu kesalahan yang serius dan memandang hina apa jua bentuk judi. Ini dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk berikut;



1. Judi disebut dan diharamkan bersama dengan perbuatan minum arak, berkorban untuk berhala (syirik) dan menenung nasib. Kesemua ini adalah dosa besar di dalam Islam.

2. Judi disifatkan sebagai najis untuk menggambarkan kekejiannya.

3. Kehinaan judi diperkuatkan dengan pernyataan bahawa ia adalah amalan syaitan.

4. Allah menggunakan perkataan ‘Jauhilah’ untuk menunjukkan pengharamannya. Perintah menjauhi judi lebih keras dari mengatakan bahawa ia adalah haram. Ertinya umat Islam bukan hanya dituntut untuk tidak berjudi tetapi juga tidak mendekatinya atau apa jua jalan kepadanya. Ini sama seperti larangan dari mendekati zina.

5. Allah sertakan dalam ayat pengharaman itu, akibat-akibat buruk dari berjudi.

6. Akibat buruk yang dinyatakan berkaitan dengan perkara yang dianggap penting dalam Islam iaitu menjaga kesatuan, persaudaraan dan mendirikan solat. Oleh kerana perkara ini adalah penting dalam Islam, maka apa jua yang boleh merosakkannya adalah suatu yang dipandang berat.

7. Dalam Al-Maidah : 90-91, Allah bukan hanya perintah agar menjauhi judi bahkan Ia memperkuatkan perintah tersebut dengan seruan agar meninggalkannya sebagai penegasan.

8. Siapa yang mengajak saudaranya berjudi sahaja, diperinthkan oleh Rasulullah s.a.w bersedekah sebagai kafarah terhadap dosanya apa lagi jika melakukannya.



Oleh itu, pengaharaman judi adalah sesuatu yang tsabit dengan dalil qat’ii sama seperti pengharaman ke atas babi. Ertinya dalam apa jua keadaan dan tempat, judi adalah haram sehingga hari Kiamat. Larangan terhadapnya tidak dapat ditafsirkan dengan pengertian lain.



Apa yang tidak tsabit secara qat’ii ialah bentuk-bentuk permainan yang dikategorikan sebagai judi. Dalam aspek ini sememangnya terdapat khilaf dikalangan ulama kerana permainan selalunya berkembang dari masa ke semasa dan berbeza-beza antara dahulu dan sekarang dan antara kalangan kaum.


Cukup Bagi Kita Al-Quran



Oleh kerana itu pendirian seorang muslim dalam persoalan judi ialah untuk menerima ketentuan Allah taala dengan yakin akan keburukan judi. Walau pun terdapat pelbagai hujah dan kajian saintifik yang dibuat oleh pelbagai pihak bagi menjustifikasikan judi samada untuk tujuan ekonomi, sosial dan lain-lain.



Babi tidak akan boleh menjadi halal walau pun para saintis dapat membuktikan faedah yang ada padanya. Begitulah juga judi.



Seorang muslim wajib menolak judi dan membanterasnya walau pun ia tidak lihat atau belum lihat tanda-tanda negatif dari perbuatan judi.



Keimanan kita terhadap Allah taala dan kebenaran Al-Quran dan As-Sunnah cukup bagi menolak judi samada sikit atau banyak, untuk tujuan peribadi atau manfaat sosial. Ini sejajar dengan firman Allah taala yang bermaksud



“Alif Lam Mim, (Al-Quran) itu adalah kitab yang tiada keraguan padanya dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah : 1-2)



“Demi tuhankau (Muhammad), sesungguhnya mereka belum beriman sehingga mereka menjadikan kau sebagai hakim dalam perkara yang mereka berselisih dan tidak merasa keberatan atas apa yang kamu putuskan dan menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa’ : 65)



Walau pun begitu, ini tidak bermaksud untuk menghalang umat Islam dari membuat pelbagai kajian berkaitan judi secara objektif. Seperti kajian mengenai kesan judi terhadap masyarakat, individu dan psikologi penjudi.



Hari ini judi sudah menjadi satu amalan sosial yang biasa. Ia bahkan menjadi satu industri tersendiri yang memberi pekerjaan pada ratusan tenaga manusia, pendapatan bilion dolar bagi pemerintah dan syarikat judi, sumbangan bilion dolar juga kepada kerja kemasyarakatan. Begitu besar manfaat ini, sehingga ia mengaburi mata dan menggoncang keyakinan adakah benar judi itu hina dan tidak baik?



Dalam hal ini suka dipertegaskan bahawa Islam tidak menafikan kewujudan manfaat dari judi. Namun judi tetap diharamkan bukan kerana ia tidak ada faedah tetapi kerana mudarat yang timbul dari berjudi lebih besar dari faedah yang boleh diraih. Ini dengan jelas dinyatakan dalam Al-Baqarah : 219.



Ini tidak akan berubah walau pun pada hari ini ramai yang berjudi secara suka-suka atau kecil-kecilan dan judi yang diinstitusikan tidak pula mencetus permusuhan, pergaduhan dan ibadah kepada Allah taala.


Antara Permainan & Judi



Dalam mengklasifikasikan sesuatu permainan sebagai judi, para ulama telah mensyaratkan ciri-ciri berikut;



1. Ia disertai oleh dua orang atau lebih atau dua kumpulan manusia atau lebih.

2. Setiap pihak mempertaruhkan sesuatu harta atau manfaat.

3. Mana-mana pihak yang menang akan memperolehi harta atau manfaat dari pihak yang kalah di samping menyimpan harta dan mafaat yang ia pertaruhkan.



Berdasarkan ini, para ulama berpendapat bahawa mana-mana permainan yang mana pemenangnya memperolehi manfaat yang disediakan oleh pihak ketiga, bukan dari pihak-pihak yang terlibat dalam permainan itu. Permainan seperti ini dinamakan sebagai pertandingan dan manfaat yang diperolehi dianggap sebagai hadiah.



Satu permainan juga tidak dianggap sebagai judi sekiranya manfaat yang diperolehi berasal dari satu pihak seperti sekiranya seorang berkata kepada temannya “Jika kamu boleh mengalahkan saya, saya akan memberimu hadiah. Akan tetapi jika kamu kalah, tiada kewajipan atas kamu terhadap saya.” Ini berdasarkan kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang mana Rasulullah s.a.w diajak oleh seorang kafir Quraisy bernama Rukanah untuk bergusti dengan hadiah beberapa kambing, jika Rasulullah s.a.w menang. Rasulullah s.a.w menerima cabaran itu dan beliau menang dalam pertandingan[2].



Di dalam sebuah hadits juga diriwayatkan dari Anas



“Ditanyakan kepada Anas Apakah kamu bertaruh di masa Rasulullah s.a.w? Apakah Rasulullah s.a.w bertaruh? Anas menjawab Ya, beliau telah mempertaruhkan seekor kuda yang dinamakan Sabhah, lalu taruhan itu dimenangkan oleh Rasulullah s.a.w. Beliau senang terhadap hal itu dan mengaguminya.” (Riwayat Ahmad)



Apa jua permainan yang apabila seorang di antara yang bertaruh menang lalu mendapatkan taruhan itu sedang bila kalah maka dia berhutang kepada temannya dianggap sebagai judi yang diharamkan[3].


Loteri Adalah Judi



Berkaitan dengan loteri dan permainan 4D atau TOTO pada hari ini, Muhammad Abduh berpendapat bahawa walau pun permainan seperti ini mempunyai ciri-ciri



· Tidak menimbulkan permusuhan, kebencian dan tidak menghalangi pembelinya dari perbuatan mengingat Allah taala dan mendirikan solat kerana para pembeli permainan-permainan ini tidak berkumpul di satu tempat, bahkan mereka berada dijarak yang jauh dan berlainan dari tempat perlaksanaan permainan.

· Dalam bermain permainan ini juga, pembeli tidak terhalang dari berzikir dan bersolat berbeza dengan mereka yang menghadap meja judi kerana berjudi.

· Para pembeli tidak mengetahui orang yang memakan hartanya berbeza dengan judi biasa.



Namun, mengikut Muhammad Abduh, dalam pelaksanaannya undian loteri (juga 4D dan TOTO – penulis) ini terdapat akibat-akibat buruk seperti yang juga terdapat pada jenis judi yang lain adalah kenyataan bahawa perlaksanaan undian loteri ini merupakan salah satu cara untuk mendapatkan harta orang lain secara tidak sah iaitu tanpa balasan yang jelas seperti pertukaran harta itu dengan benda lain atau dengan satu jasa. Cara-cara ini diharamkan oleh Islam[4].



Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi menulis bahawa apa yang sekarang ini dinamakan dengan ‘loteri’ adalah semacam cabang dari perjudian juga, yang mana tidak seharusnya dipandang remeh serat membolehkannya atas nama badan bantuan sosial dan kerana tujuan-tujuan kemanusiaan. Sebenarnya orang-orang yang membolehkan bermain loteri kerana tujuan-tujuna yang tersebut seperti orang-orang yang mengumpul dana sumbangan kerana tujuan-tujuan khairat dnegan mengadakan majlis-majlis joget dan pertunjukan seni yang haram. Sebaik-baiknya kita katakan kepada orang ini sebagaimana yang disabdakan oleh nabi Muhammad s.a.w yang bermaksud



“Sesungguhnya Allah itu Baik, Dia tidak akan menerima kecuali yang baik-baik sahaja” (Riwayat Muslim)[5]


Lumba Kuda Dalam Islam



Islam menggalakkan umatnya beriadah dengan berkuda. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud



“Lemparkanlah (panah) dan tungganglah (kuda)!” (Riwayat Muslim)



“Kuda itu ada tiga macam. Kuda yang dimaksudkan untuk Allah, kuda yang dimaksudkan untuk manusia dan kud ayang dimaksudkan untuk syaitan. Adapun kuda yang dimaksudkan untuk Allah, ialah kuda yang disediakan untuk berperang pada jalan Allah, maka makanannya, tahinya, lalu beliau sebut lagi bermacam-macam (semuanya ada kebaikannya). Adapun kuda yang disediakan untuk syaitan, itulah kuda yang disediakan untuk berjudi dan untuk pertaruhan. Adapun kuda yang disediakan untuk manusia, itulah kuda yang dipelihara manusia untuk dibiakkan, maka itu adalah untuk menutup diri dari kemiskinan.” (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)



Dalam konteks hari ini, permainan Polo dan equestrian sebagai satu riadah dibolehkan dalam Islam. Perlumbaan menunggang kuda juga dibolehkan jika sebagai satu pertandingan yang mana pemenangnya mendapat hadiah dari pihak ketiga bukan dari taruhan para pelumba. Yang haram ialah perbuatan bertaruh dan menikam oleh para penonton bagi menentukan kuda yang menang.



Oleh kerana perlumbaan kuda hari ini diwujudkan tidak lain kecuali untuk menarik taruhan dari masyarakat umum, maka secara umum perlumbaan kuda hari ini menjadi haram kerana tujuannya yang menyimpang. Ini sejajar dengan hadits yang dinyatakan di atas.


Tikam Bola Juga Judi



Tidak syak lagi bahawa permainan menikam keputusan pertandingan bola di Liga S juga adalah judi. Maka ia adalah haram dalam Islam.


Cabutan Bertuah = Judi?



Cabutan bertuah yang dianjurkan oleh syarikat-syarikat bagi menggalak penjualan barangannya atau yang dianjurkan oleh badan-badan bagi mengumpul dana atau yang diadakan dalam majlis-majlis tertentu tidak dianggap sebagai judi. Ini kerana tiada pertaruhan antara pemegang tiket cabutan bertuah berkenaan. Cabutan bertuah bagi tujuan perdagangan, pembeli telah mendapat manfaat wangnya dengan memperolehi barangan yang diberi.



Cabutan bertuah itu hanyalah satu janji peniaga / pengumpul dana untuk memberi hadiah kepada mereka yang membeli barangannya atau yang telah menderma, sebagai tanda terima kasih dan bagi galakan. Oleh kerana ramai yang memenuhi syarat bagi menerima hadiah yang dijanjikan, maka undi dibuat bagi menentukan siapa yang berhak untuk mendapat hadiah yang terhad jumlahnya.



Cabutan bertuah melalui undi yang tidak mengandungi kerosakan sama sekali bahkan mengandungi manfaat seperti cabutan bagi kuiz berhadiah dan promosi perdagangan dibenarkan[6].



Membuat keputusan secara mengundi seperti ini adalah dibenarkan dalam Islam. Dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim ada menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w apabila ingin bermusafir mengundi isteri-isterinya untuk menentukan siapa yang akan mengikutinya.


Penggunaan Wang Hasil Judi



Wang hasil judi haram dimanfaatkan oleh pemenang judi atau sesiapa yang menerima pemberian dari wang berkenaan. Apa yang boleh dilakukan ialah wang tersebut hendaklah dimasukkan ke dalam Baitul-Mal. Wang ini menjadi milik Baitul-Mal untuk digunakan bagi faedah umum kaum Muslimin.



Derma dari hasil yang sedemikian jika digunakan untuk membina masjid hukumnya adalah makruh dan amalannya itu tidak merupakan satu kebajikan kerana Rasulullah telah bersabda, yang bermaksud



"Sesungguhnya Allah itu Suci, tidak menerima melainkan yang suci.”(Riwayat Muslim)



Akan tetapi, ibadat seseorang serta fardu jemaahnya di dalam masjid itu adalah sah[7].


Kesimpulan



Islam adalah agama yang sejajar dengan fitrah manusia. Oleh itu, Islam mengharuskan hiburan dan pelbagai permainan. Mengikut prinsip hukum Islam, apa jua hiburan dan permainan adalah halal kecuali ada dalil yang menjadikannya haram.



Atas dasar ini, pada hakikatnya terdapat pelbagai hiburan dan permainan yang manusia boleh menceburinya dibandingkan apa yang tidak dibenarkan. Oleh itu, adalah satu kesilapan untuk mentohmah Islam sebagai satu agama yang sempit dan jumud kerana sikap tegasnya terhadap judi.



Islam melarang judi kerana ia menjadikan manusia menggantungkan harapannya kepada nasib, keuntungan yang tiba-tiba serta cita-cita kosong bukan kepada pekerjaan dan usaha melalui sebab musabab yang ditentukan oleh Allah taala.



Islam bertujuan untuk menjaga harta manusia dari musnah dan diambil secara salah. Sedangkan judi memusnahkan harta penjudi dan membuka pintu untuk mengambil harta orang lain melalui untung nasib semata-mata.



Wallahu’alam





[1] Dr. Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ickhtiar Baru, Jakarta, 1997, jld 3, ms 1053



[2] Ibid, jld, ms 1055.



[3] Sayid Sabiq, Fiqh Sirah, PT Al-Ma`arif, Bandung, 1987, jld 14, ms 141.

[4] Dinukil dari Dr Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar Baru, Jakarta, 1997, jld 3, ms 1055. Lihat Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, juz 2.



[5] Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Halal Dan Haram Dalam Islam, Pustaka Islamiah, Singapura, 1995, ms 498.



[6] Dr. Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ickhtiar Baru, Jakarta, 1997, jld 6, ms 1871

[7] Fatwa MUIS, rujuk www.muis.gov.sg

Qunut Nazilah Dalil & Sejarah

4 comments

Definisi "Qunut":
Sebelum kita bincangkan dengan lebih lanjut, ada baiknya kita mengetahui
terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan "Qunut".

Dari segi bahasa, "Qunut" mempunyai banyak makna. Antaranya ialah taat
dan mendirikan perintah Allah, solat, berdiri yang lama, pengabdian,
diam, khusyu' dan beberapa makna lagi.
(Rujuk: Lisan al-'Arab 2/73, al-Qamus al-Muhit 158, al-Munjid fi
al-Lughah 656).

Dari segi istilah, Ibn 'Allan menghuraikan maksud "Qunut" di sisi
syariat ialah satu nama bagi doa yang dibaca di dalam solat pada tempat
yang dikhususkan semasa berdiri. Menurut Syeikh Ibn 'Uthaimin, qunut
ialah satu istilah yang diberikan kepada doa yang sesuai dengan sesuatu
keadaan atau ketika berlakunya sesuatu bencana. Inilah apa yang
dinamakan sebagai qunut nazilah.
(Rujuk: Al-Asqalani, Ibn Hajar, Fath al-Bari, 2/633. Ibn al-'Uthaimin,
Syarah Bulugh al-Maram, Kitab al-Solat, 224).

Definisi"Nazilah":

Kita telah mengetahui makna "qunut" secara ringkas, apa pula yang
dimaksudkan dengan "nazilah"?

Dari segi bahasa, "nazilah" ialah suatu keadaan yang gawat, mencemaskan
dan terdesak.

Dari segi istilah, ia bermaksud suatu keadaan bencana yang menimpa ke
atas umat Islam seperti adanya musuh, ketakutan, musim kemarau, wabak
penyakit atau sesuatu mudharat yang jelas menimpa umat Islam.

Hadis-hadis dan athar tentang qunut nazilah.

Setelah diperhatikan kebanyakan riwayat-riwayat yang menyebut tentang
doa qunut nazilah ini, didapati ianya terbahagi kepada dua bahagian:
1) Riwayat yang sahih,
2) Riwayat yang tidak sahih.

Pertama: Riwayat yang sahih

Terdapat banyak hadis-hadis sahih yang thabit daripada Rasulullah saw
berkenaan dengan qunut nazilah. Hadis-hadis ini menjelaskan tentang
bagaimana qunut nazilah disyariatkan, tempat bacaannya, apa yang perlu
dibaca, bila ia bermula dan berakhir dan sebagainya.

Dalam tulisan yang ringkas ini, hanya akan menyebut beberapa contoh
penting daripada hadis-hadis tersebut.

· a) Riwayat Abu Hurairah r.a:
· - Abu Hurairah berkata: "Ketika solat Subuh, selepas Rasulullah saw
selesai membaca (al-Fatihah dan surah), baginda bertakbir (untuk rukuk)
dan mengangkat kepalanya kembali, lalu baginda membaca: "Sami'allahu
liman hamidahu, rabbana walaka al-hamdu". Kemudian, baginda membaca doa
dalam keadaan berdiri: "Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid,
Salamah bin Hisham, 'Iyash bin Abi Rabia'h dan semua golongan yang
tertindas dari kaum mukminin. Wahai Allah, hancur dan musnahkanlah kaum
kafir yang memberi mudharat, dan jadikanlah ke atas mereka tahun-tahun
yang sengsara seperti yang berlaku pada zaman nabi Yusuf" . (Riwayat
al-Bukhari (no.2600) dan Ahmad 2/239, 396)
.

Di dalam riwayat Imam Muslim (no. terdapat tambahan doa seperti berikut:
"Ya Allah, laknatilah kabilah Lihyan, Ri'l, Zakwan dan 'Usaiyah yang
telah menderhakai Allah dan juga RasulNya".


Di dalam hadis ini menceritakan bahawa Rasulullah saw mendoakan supaya
Allah Azza wa Jalla menyelamatkan beberapa orang sahabat baginda yang
masih tinggal di Mekah. Selepas masuk Islam, mereka itu diseksa dan
diazab oleh kafir Quraish. Dengan keberkatan doa Rasulullah saw, mereka
semua selamat dan kemudian terus berhijrah kepada baginda di Madinah.

· - Abu Hurairah berkata: "Sesungguhnya aku akan dekatkan solat kalian
dengan cara solat Rasulullah". Abu Hurairah membaca doa qunut pada
rakaat terakhir dalam solat Zohor, 'Isya', dan Subuh, selepas beliau
menyebut: "sami'allahu liman hamidahu", beliau mendoakan kebaikan kaum
mukminin dan laknat ke atas golongan kafir". (Riwayat al-Bukhari (797),
Muslim (676).

Dalam riwayat ini, Abu Hurairah menggunakan caranya tersendiri supaya
orang lain mencontohi cara solat beliau. Ini kerana cara solat beliau
adalah yang paling sama dengan solat Rasulullah saw.

· b) Riwayat Anas bin Malik r.a
· - Muhammad bin Sirin berkata: Anas bin Malik pernah ditanya: Adakah
Nabi saw membaca doa qunut dalam solat Subuh? Jawab Anas: Ya. Ditanya
lagi: Adakah baginda berqunut sebelum atau selepas rukuk? Anas menjawab:
Selepas rukuk dalam tempoh yang sekejap sahaja.
(Riwayat al-Bukhari (1001), Muslim (677).


Yang dimaksudkan dengan "tempoh yang sekejap" ialah selama sebulan
seperti yang dijelaskan dalam riwayat 'Asim. Boleh juga dikatakan
maksudnya ialah dalam kadar masa yang sekejap sahaja seperti tempoh
rukuk dan sujud.
(Lihat: Fath al-Bari 2/632, 'Aun al-Ma'bud 2/225).

· - Anas bin Malik menceritakan bahawa Rasulullah saw membaca doa qunut
selepas daripada rukuk, selama sebulan di dalam solat Subuh, baginda
berdoa (laknat) ke atas Bani 'Usaiyah. (Riwayat Muslim). Di dalam
riwayat lain daripada Anas juga, dinyatakan bahawa baginda saw berdoa ke
atas Bani Ri'l, Zakwan, dan baginda berkata 'Usaiyah telah menderhaki
Allah dan rasulNya. (Riwayat al-Bukhari (4094), Muslim).


· - Dalam riwayat lain, Anas bin Malik menceritakan bahawa Nabi saw
pernah mengutuskan seramai 70 orang yang terdiri daripada para qurra'
(yang alim dan mahir dalam bacaan al-Quran). Kumpulan para qurra' ini
dihantar untuk memenuhi permintaan beberapa kabilah seperti Ri'l dan
Zakwan. Apabila rombongan tersebut sampai kepada kabilah Ri'l dan Zakwan
berhampiran dengan sebuah telaga, dikenali telaga Mau'nah (Bi'r
Mau'nah), kabilah tersebut berkata: Demi Allah, bukan kamu semua yang
kami perlukan, sesungguhnya kami inginkan Nabi saw. Kabilah-kabilah
tersebut telah menipu dan khianat kepada Rasulullah saw. Mereka telah
membunuh semua 70 orang para qurra' tersebut. Apabila berita ini sampai
kepada Nabi saw, baginda amat sedih. Lalu, baginda berdoa (laknat) ke
atas kabilah-kabilah tersebut selama sebulan di dalam solat Subuh. Maka,
inilah permulaannya doa qunut. (Rujuk kisah ini dalam Sahih al-Bukhari
(4088).


- 'Asim al-Ahwal berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang doa
qunut, (adakah ia dibaca) dalam sembahyang? Anas menjawab: Ya. Aku
bertanya lagi: Ia dibaca sebelum atau selepas rukuk? Anas menjawab:
Sebelum rukuk. Aku bertanya lagi: Sesungguhnya si fulan memberitahuku
yang engkau pernah menyatakan qunut dibaca selepas rukuk. Anas berkata:
Tidak benar, sesungguhnya Nabi saw membaca doa qunut selepas rukuk
selama sebulan… (iaitu selepas daripada peristiwa Bi'r Maunah seperti
yang disebutkan di atas). (Riwayat al-Bukhari (4096), Muslim)

· c) Riwayat Ibn 'Abbas
· - Ibn 'Abbas berkata bahawa Rasulullah saw membaca doa qunut selama
sebulan berturut-turut di dalam solat Zohor, Asar, Maghrib, 'Isya' dan
Subuh di penghujung setiap solat, iaitu apabila baginda menyebut
"sami'allahu liman hamidah" pada rakaat terakhir, lalu baginda berdoa ke
atas kabilah-kabilah dari Bani Sulaim, dan orang yang dibelakang baginda
mengaminkannya. Kabilah-kabilah tersebut ialah kabilah yang telah
diutuskan kepada mereka (sekumpulan qurra') untuk mengajarkan mereka
agama Islam, lalu mereka membunuh para qurra' tersebut. 'Ikrimah
berkata: Ini adalah permulaan doa qunut. (Riwayat Ahmad 1/301), Abu Daud
(1443). Menurut Al-Albani di dalam kitabnya Irwa' al-Ghalil 2/163, hadis
ini adalah hasan)

· d) Riwayat Ibn Umar
· - Salim menceritakan daripada Ibn Umar yang beliau mendengar Nabi saw
menyebut di dalam solat Subuh, selepas baginda mengangkat kepalanya dari
rukuk pada rakaat terakhir: "Allahumma rabbana walaka al-hamd" .
Kemudian, baginda berdoa: "Ya Allah, laknatilah si fulan dan si fulan".
Lalu Allah turunkan ayat (yang bermaksud): "Engkau tidak berhak
sedikitpun (wahai Muhammad) dalam urusan (orang-orang yang ingkar) itu,
(kerana urusan mereka tertentu bagi Allah)"…(Ali-Imran:128)


· - Daripada Malik bin Nafi' katanya: "Sesungguhnya Ibn Umar tidak
membaca doa qunut di dalam mana-mana solat". Daripada sumber Abi
al-Sya'tha' katanya: "Aku bertanya Ibn Umar tentang doa qunut di dalam
solat Subuh, beliau berkata: Aku tidak rasakan ada seorang pun yang
melakukannya". (Riwayat Malik di dalam al-Muwatta' dengan sanad yang
sahih (379)
.

Maksud hadis ini bahawa Ibn Umar tidak membaca doa qunut di dalam
mana-mana solat iaitu tidak membacanya secara berterusan setiap hari,
bukanlah menafikannya secara mutlak. Ini kerana terdapat riwayat lain
yang menyebut beliau membaca doa qunut di dalam solat witir dan sebagainya.

· e) Riwayat al-Barra' bin 'Azib
· - Al-Barra' bin 'Azib menyatakan bahawa Rasulullah saw membaca doa
qunut pada solat Subuh dan Zohor. (Riwayat Muslim (678).

· f) Riwayat Abu Malik al-Asyja'ie
· - Malik al-Asyja'ie berkata: Aku bertanya ayahku: "Wahai ayahku,
sesungguhnya engkau telah bersembahyang di belakang Rasulullah saw, Abu
Bakar, Umar dan Uthman (di Madinah) dan dibelakang Ali di Kufah lebih
kurang selama lima tahun. Adakah mereka semua membaca qunut dalam solat
Subuh? Jawab ayahku: "Wahai anakku, itu adalah perkara baru dalam agama".


"Perkara baru dalam agama" yang dimaksudkan dalam hadis ini ialah
melazimkan membaca doa qunut dalam solat Subuh dengan satu doa yang
khusus. Manakala membaca qunut nazilah disebabkan sesuatu musibah yang
berlaku adalah amalan yang thabit daripada Rasulullah saw dan
keempat-empat para khalifah. Oleh itu, difahami daripada hadis ini
bahawa Rasulullah saw dan para khalifah tidak melazimkan membaca doa
qunut Subuh setiap hari.

Kedua: Riwayat yang tidak sahih

Salah satu riwayat yang tidak sahih, tetapi popular dan sering digunakan
sebagai hujah ialah:

Riwayat Abu Ja'far al-Razi, beliau meriwayatkan daripada al-Rabi' bin
Anas, dan al-Rabi' meriwayatkan daripada Anas bin Malik, katanya: "
Rasulullah s.a.w berterusan membaca doa qunut pada waktu Subuh sehingga
baginda berpisah dengan dunia (wafat)"

Dalam satu riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya Nabi s.a.w membaca doa
qunut selama sebulan, baginda berdoa ke atas pembunuh para sahabatnya
(yang dibunuh) di Bi'ru Mau'nah, kemudian baginda tidak membacanya lagi.
Manakala dalam solat Subuh, baginda terus membaca doa qunut sehinggalah
baginda wafat".

Hadis ini daif disebabkan kecacatan yang ada pada perawinya iaitu Abu
Ja'far al-Razi. Beliau ialah Isa bin Mahan. Ramai ulamak hadis telah
memberikan komentar tentang dirinya dan menilainya sebagai seorang yang
daif di sisi ulamak hadis. Antaranya ialah Imam Ahmad, Ibn al-Turkimani,
Ibn al-Jauzi, Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syaukani,
Syuaib dan Abdul Qadir al-Arnaut dan lain-lain.

Hukum membaca Qunut Nazilah

Jumhur ulamak bersepakat bahawa tidak wajib membaca qunut nazilah, dan
meninggalkannya tidak membatalkan solat.

Menurut al-Qurtubi di dalam kitab al-Jami' Li Ahkam al-Quran: (Al-Tabari
menjelaskan bahawa telah menjadi ijma' meninggalkan qunut nazilah
bukanlah perkara yang membatalkan solat).
(Rujuk: Al-Qurtubi, al-Jami' li ahkam al-Quran, 2/129).

Ibn 'Uthaimin di dalam Syarah al-Mumti' menyatakan: (Telah ijma' para
ulamak bahawa qunut ini (nazilah) tidak wajib, tetapi afdhal untuk imam
membacanya).
Rujuk: Ibn 'Uthaimin, Syarah al-Mumti', 4/59).

Para fuqaha' berbeza pendapat tentang hukum membaca qunut nazilah ketika
berlakunya sesuatu musibah.

Pendapat yang lebih tepat (rajih) ialah pendapat para ulamak dari mazhab
Hanafi, Syafie dan Hanbali iaitu disyariatkan untuk membaca doa qunut
ketika berlakunya musibah. Pendapat ini berdasarkan dalil-dalil yang
telah dinyatakan sebelum ini.

Apa yang perlu dibaca?

Menurut pendapat majoriti ulamak, tidak ada doa khusus tertentu yang
perlu dibaca di dalam doa qunut nazilah. Jadi, doa yang dibaca ialah apa
yang bersesuaian dengan musibah yang berlaku ketika itu.
(Rujuk: Badai' al-Sanai' (1/406), al-Istizkar (2/285), al-Mughni (2/587)

Oleh itu, dalam suasana musibah yang menimpa umat Islam di Palestin ini,
kita boleh berdoa semoga Allah membantu dan memberikan kemenangan kepada
mujahidin di sana. Semoga Allah menghancurkan kumpulan musuh iaitu
Zionis dan Amerika Syarikat. Semoga pakatan mereka
menjadi porak peranda, tentera-tentara mereka menjadi gementar dan takut
dan sebagainya. Semua doa ini dibaca dalam bahasa Arab.

Bolehkah Qunut Nazilah dibaca dalam semua solat fardhu?

Para ulamak berbeza pendapat di dalam hal ini. Menurut pendapat yang
rajih, doa qunut nazilah boleh dibaca di dalam semua solat fardhu.
Pendapat inilah dipegang oleh para ulamak mazhab Syafie, pandangan yang
tepat di kalangan ulamak mazhab Hanbali, sebahagian ulamak mazhab Maliki
dan majoriti ulamak hadis.

Pandangan ini berdasarkan hadis-hadis yang telah dinyatakan sebelum ini.
Sebagai contoh, hadis riwayat Ibn Abbas: Ibn 'Abbas berkata bahawa
Rasulullah saw membaca doa qunut selama sebulan berturut-turut di dalam
solat Zohor, Asar, Maghrib, 'Isya' dan Subuh di penghujung setiap solat…
(Riwayat Ahmad 1/301), Abu Daud (1443). Menurut Al-Albani di dalam
kitabnya Irwa' al-Ghalil 2/163, hadis ini adalah hasan).

Jadi, doa qunut nazilah ini boleh dibaca pada rakaat terakhir dalam
semua solat fardhu. Pendapat ini jugalah yang dipegang oleh Ibn
Taimiyah, Ibn al-Qayyim, Ibn Hazm, al-Syaukani dan lain-lain lagi.

Bolehkah Qunut Nazilah dibaca dalam solat-solat sunat?

Para ulamak berbeza pendapat dalam hal ini:

Pertama: Pendapat ulamak Mazhab Maliki dan Hanbali: Tidak ada bacaan doa
qunut dalam solat selain daripada solat fardhu yang lima.

Kedua: Pendapat ulamak mazhab Syafie: Boleh membaca qunut nazilah dalam
solat selain solat fardhu.

Pendapat yang tepat:

Pendapat yang tepat (rajih) -Allah yang lebih mengetahui- ialah pendapat
yang pertama. Ini kerana tidak terdapat hadis sahih mahupun daif yang
menyebut bahawa Rasulullah saw membaca doa qunut di dalam solat selain
daripada solat fardhu. Bahkan riwayat yang sahih menunjukkan bahawa
baginda hanya membaca qunut nazilah dalam solat fardhu. Doa qunut
merupakan ibadah khusus yang dibaca pada waktu yang khusus. Maka
pendapat yang menyatakan bahawa ia boleh dibaca dalam solat selain solat
fardhu memerlukan kepada dalil yang menerangkannya. Antara yang memilih
pendapat ini ialah Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah.
(Rujuk: Ibn Uthaimin, al-Syarah al-Mumti', 4/56).

Bila hendak berdoa- sebelum atau selepas rukuk ?

Dalam hal ini terdapar tiga pendapat di kalangan para ulamak:

Pendapat pertama: Ulamak mazhab Syafie, mazhab Hanbali, satu pendapat
dari kalangan ulamak mazhab Hanafi dan Maliki: Qunut dibaca selepas
daripada rukuk.

Dalilnya ialah hadis riwayat al-Bukhari bermaksud: "Anas ditanya: Adakah
Rasulullah saw membaca doa qunut dalam solat subuh? Jawab Anas: Ya,
iaitu selepas rukuk".Pendapat ini dipilih oleh sekumpulan para ulamak
antaranya ialah Ibn al-Munzir, Ibn Hazm, al-Azim Abadi dan selain
mereka. (Rujuk: Nail al-Awtar 1/632, Subul al-Salam 1/224).

Pendapat kedua: Pendapat yang masyhur mazhab Maliki dan satu pendapat
dalam mazhab Hanafi: Qunut dibaca sebelum daripada rukuk.

Hujah mereka ialah Rasulullah saw membacanya sebelum rukuk. Begitu juga
dengan Uthman bin Affan, berdasarkan hadis riwayat Anas bin Malik (yang
telah disebutkan sebelum ini).

Pendapat ketiga: Salah satu pendapat mazhab Maliki dan Hanbali: Boleh
dipilih sama ada dibaca sebelum atau selepas rukuk.

Dalilnya ialah hadis riwayat Humaid, katanya: Anas ditanya tentang
bacaan qunut dalam solat subuh. Jawabnya: "Kami membaca qunut sebelum
rukuk dan ada juga selepasnya". (Riwayat Ibn Majah (1183).


Pendapat yang tepat:

Pendapat yang tepat -Allah lebih mengetahui- ialah pendapat ketiga. Imam
boleh memilih sama ada untuk membacanya sebelum atau selepas rukuk.
Pendapat ini juga berdasarkan amalan sebahagian sahabat seperti Umar dan
Uthman. Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Bukhari, Ibn Hajar, Syeikh
al-Islam, Ibn Baz, Ibn Uthaimin, al-Albani.

Adakah imam membaca Qunut Nazilah dengan suara yang kuat (jahar) atau
perlahan (sir)?

Para ulamak berbeza pendapat dalam hal ini.

Pertama: Pendapat para ulamak mazhab Hanafi, Maliki dan Syafie(bukan
pendapat yang tepat) iaitu imam perlu membaca doa qunut ini secara perlahan.

Mereka berdalilkan ayat 55, surah al-A'raf:
"Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara)
perlahan-lahan."


Kedua: Pendapat para ulamak dari mazhab Syafie (pendapat yang masyhur),
mazhab Hanbali dan satu pendapat dari mazhab Hanafi iaitu qunut dibaca
dengan kuat (jahar).

Mereka berdalilkan dengan hadis-hadis yang menunjukkan bahawa Rasulullah
membaca doa qunut dengan suara yang kuat (seperti hadis-hadis yang telah
dinyatakan sebelum ini).

Pendapat yang lebih tepat (rajih):

Pendapat yang lebih tepat -Allah yang lebih mengetahui- ialah pendapat
kedua iaitu disunatkan imam untuk membaca qunut nazilah dengan suara
yang kuat dalam semua solat fardhu.

Pendapat ini berdasarkan hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh
al-Bukhari bahawa baginda saw menyaringkan suaranya ketika membaca qunut.
Terdapat juga hadis Ibn Abbas yang menunjukkan bahawa para makmum yang
dibelakang baginda mengaminkan doa qunut tersebut. Dan hal ini berlaku
hanya jika imam membacanya secara kuat.

Bolehkah doa Qunut Nazilah ketika solat berseorangan?

Dalam persoalan ini, terdapat empat pendapat di kalangan para ulamak:

Pendapat pertama: Pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali: Tidak
boleh membaca qunut nazilah kecuali hanya pemimpin utama umat Islam di
dalam sesebuah negara Islam.
(Rujuk: Al-Syarh al-Kabir 4/136)

Pendapat kedua: Pendapat mazhab Hanafi, Maliki, Syafie dan satu riwayat
dari mazhab Hanbali: Doa qunut ini boleh dibaca oleh semua imam yang
menjadi imam solat jemaah. (Rujuk: Hashiyah Ibn 'Abidin 2/390,
al-Istizkar 5/175, al-Majmu' 3/461, al-Insaf 4/136)

Pendapat ketiga: Satu riwayat dalam mazhab Hanbali, pendapat yang
dipilih oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah dan satu pendapat daripada
Syeikh Ibn 'Uthaimin: Setiap orang yang menunaikan solat fardhu boleh
membaca doa qunut ini, sama ada imam, makmum atau pun yang solat
bersendirian. (rujuk: Majmu' al-Fatawa 23/111)

Pendapat keempat: Satu pendapat di kalangan ulamak mazhab Hanbali dan
Ibn 'Uthaimin: Doa qunut ini adalah khas dengan izin pemimpin, jika
pemimpin memberi arahan, maka ia dibaca. (Rujuk: al-Furu' 1/484)

Pendapat yang lebih tepat (rajih):
Pendapat yang rajih -Allah lebih mengetahui- ialah pendapat yang ketiga
(satu pendapat dari Imam Ahmad dan yang dipilih oleh Syeikh al-Islam)
iaitu doa qunut boleh dibaca oleh semua orang yang sembahyang; imam,
makmum dan juga yang sembahyang secara berseorangan. Pendapat inilah
yang dipilih oleh Syeikh Ibn Baz.

Pendapat ini berdasarkan dalil hadis riwayat al-Bukhari (maksudnya):
"Solatlah kamu seperti mana kamu melihat aku solat". Hadis ini secara
jelas menunjukkan bahawa perbuatan Nabi saw di dalam solat adalah
disyariatkan untuk semua kaum muslimin secara umum. Tidak ada pula dalil
lain yang mengkhususkan bahawa qunut nazilah ini hanya boleh dibaca oleh
imam sahaja atau pemimpin utama umat Islam.

Malah terdapat riwayat lain yang menunjukkan beberapa orang sahabat yang
turut membaca qunut ini sedangkan mereka bukanlah pemimpin utama umat
Islam ketika itu. Antaranya ialah Abu Hurairah, Anas, Ibn Abbas,
al-Barra', Muawiyah dan lain-lain lagi.

Bolehkah wanita yang solat fardhu di rumah secara berseorangan membaca
Qunut Nazilah?

Syeikh Abdullah bin Jibrin pernah ditanya tentang soalan ini.
Jawapannya: Wanita yang solat fardhu dirumah boleh membaca doa qunut
nazilah. Ini berdasarkan dalil-dalil yang umum daripada al-Quran dan
sunnah yang menunjukkan pensyariatan membaca doa.

Perbincangan tentang ayat 128, surah Ali Imran
Apakah sebab diturunkan ayat 128, surah Ali Imran?
"Engkau tidak berhak sedikitpun (wahai Muhammad) dalam urusan
(orang-orang ang ingkar) itu, (kerana urusan mereka tertentu bagi Allah)".

Ibn al-Jauzi di dalam kitab Zad al-Masir, menyebut beberapa pandangan
tentang sebab ayat ini diturunkan, antaranya ialah:
1) Rasulullah saw telah tercedera dalam peperangan Uhud, luka dahinya
sehingga mengalir darah di mukanya. Lalu baginda berkata: Bagaimana
hendak berjaya bagi satu kaum yang telah sanggup bertindak sebegini
kepada nabi mereka. Baginda berdoa ke atas mereka itu. Maka turunlah
ayat ini. Ini ialah pendapat Ibn Abbas, al-Hasan dan Qatadah.

2) Rasulullah saw melaknat ke atas golongan munafik. Maka turunlah ayat
ini. Ini pendapat Ibn Umar.

3) 70 orang sahabat dari ahli suffah pergi kepada dua kabilah daripada
bani Sulaim iaitu 'Usaiyah dan zakwan. Lalu mereka semua dibunuh. Maka
Nabi saw pun mendoakan ke atas kabilah tersebut selam empat puluh hari.
Lalu turunlah ayat ini. Ini adalah pendapat Muqatil bin Sulaiman.

Apakah maksud ayat ini?

Menurut Ibn Kathir di dalam tafsirnya Tafsir al-Quran al-'Azim, ayat ini
bermaksud segala urusan adalah kembali kepada Allah, seperti firmanNya
(bermaksud):

"Maka tidaklah menjadi hal kerana tanggunganmu hanyalah menyampaikan
hukum-hukum yang Kami turunkan kepadamu; dan urusan Kami menghitung dan
membalas amal mereka". (al-Ra'd: 40)


" Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang
kafir) mendapat petunjuk (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan
petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan
memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut
undang-undang peraturanNya). (al-Baqarah: 272)


"Sesungguhnya Engkau (Wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah
petunjuk kepada sesiapa Yang Engkau kasihi (supaya ia menerima Islam),
tetapi Allah jualah Yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada
sesiapa Yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan
Dia lah jua Yang lebih mengetahui akan orang-orang Yang (ada persediaan
untuk) mendapat hidayah petunjuk (kepada memeluk Islam)". (al-Qasas: 56)


Adakah ayat ini telah memansuhkan Qunut Nazilah?

Menurut Imam al-Qurtubi di dalam kitabnya al-Jami' li ahkam al-Quran,
bahawa sesetengah golongan menganggap bahawa ayat ini telah memansuhkan
qunut yang dibaca oleh Nabi saw selepas rukuk pada rakaat terakhir dalam
solat Subuh. Mereka berhujah dengan hadis Ibn Umar yang beliau mendengar
Nabi saw menyebut dalam solat Subuh, selepas mengangkat kepala daripada
rukuk bacaan "Allahuma rabbana walaka al-hamd fi al-akhirah", kemudian
baginda membaca "Wahai Allah, laknatlah si fulan dan sifulan". Lalu,
Allah menurunkan ayat ini (ali imran: 128). Hadis ini telah diriwayat
oleh al-Bukhari dan Muslim daripada hadis abu Hurairah.

Namun, ini bukanlah bermaksud telah berlakunya mansukh. Tetapi Allah swt
ingin memberi peringatan kepada NabiNya bahawa segala urusan tidak
ditentukan oleh baginda. Dan baginda tidak mengetahui sesuatu pun
daripada perkara yang ghaib melainkan apa yang telah diajarkan
kepadanya. Sesungguhnya segala ketentuan itu kembali kepada Allah. Allah
akan menerima taubat dari sesiapa yang dikehendaki, dan akan
mempercepatkan hukuman ke atas sesiapa yang dikehendakinya…
(Rujuk: Al-Qurtubi, al-Jami' li Ahkam al-Quran, 2/129)

Maka, pendapat yang lebih tepat (rajih) ialah digalakkan untuk membaca
qunut nazilah ketika berlakunya apa-apa musibah. Pendapat yang
menyatakan bahawa qunut nazilah telah dimansuhkan dengan ayat ini adalah
pendapat yang kurang tepat (marjuh).

Bolehkah mendoakan laknat ke atas orang kafir?

Dibolehkan mendoakan laknat ke atas orang kafir dalam qunut nazilah dan
menyatakan golongan tertentu di dalam doa sama ada doa kebaikan atau pun
doa laknat ke atas mereka. Pendapat ini dipilih oleh kebanyakkan para
ulamak, antaranya ialah Imam Malik, Imam Ahmad, Ibn Hibban, Ibn Battal,
Ibn Qudamah, Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Nawawi, Ibn
Hazm, Ibn 'Asyur dan al-Sana'ni.

Telah thabit daripada sebahagian sahabat seperti Umar dan Abu Hurairah
yang mendoakan laknat ke atas orang kafir. (seperti hadis yang telah
disebutkan sebelum ini)

Al-Hafiz Ibn Hajar juga membahaskan perkara ini di dalam Fath al-Bari,
di dalam bab doa untuk kaum musyrikin. Rumusan daripada perbahasan
tersebut, boleh berdoa laknat ke atas kaum musyrikin dan hukum ini tidak
mansuh. Ada pun yang dilarang ialah doa ke atas orang kafir yang ada
harapan untuk melembutkan hati mereka supaya menerima agama
Islam….(Rujuk: Ibn Hajar, Fath al-Bari, Kitab al-Da'wat, Bab al-Dua' lil
musyrikin, 11/234).

Oleh itu, dalam hal mendoakan laknat ke atas golongan kafir ini, boleh
dibahagikan kepada dua keadaan:

Pertama: Orang kafir yang memerangi orang Islam; maka dibolehkan untuk
mendoakan laknat ke atas mereka. Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan
para ulamak.

Kedua: Orang kafir yang menghormati agama Islam, tidak memerangi orang
Islam dan dilihat ada harapan untuk melembutkan hati mereka supaya
menerima Islam; maka tidak boleh untuk mendoakan laknat ke atas mereka.
Malah, didoakan supaya mereka ini mendapat hidayah dan bertaubat.

Inilah kesimpulan daripada gabungan dan penyelerasan di antara dalil-dalil yang berkaitan perkara ini.

Bolehkah mendoakan laknat ke atas seseorang orang kafir secara khusus?

Para ulamak berbeza pendapat dalam perkara ini. Menurut pendapat Syeikh
Ibn Uthaimin, beliau membawakan firman Allah Taala dalam surah
al-Baqarah, ayat 89:
"Maka (dengan yang demikian), laknat Allah menimpa orang-orang yang
kafir ingkar itu".


Menurut beliau, di antara pengajaran ayat ini ialah orang kafir layak
untuk mendapat laknat Allah dan ianya suatu yang pasti. Berdasarkan ayat
ini, sebahagian ulamak menjadikannya dalil bahawa boleh untuk mendoakan
laknat ke atas orang kafir secara khusus. Tetapi tidak ada dalil tentang
perkara ini. Ini kerana ayat di atas menyebut laknat ke atas orang kafir
secara umum dan ia pula adalah suatu pernyataan daripada Allah swt.
Tidak semestinya dengan pernyataan ini, dibolehkan juga untuk berdoa.

Antara bukti yang menunjukkan bahawa tidak boleh untuk mendoakan laknat
ke atas seseorang kafir secara khusus ialah Nabi saw pernah mendoakan
laknat ke atas si fulan dan si fulan yang terdiri daripada pemimpin
orang kafir. Lalu Allah melarang perbuatan baginda. Ini kerana, jika
seseorang kafir itu masih hidup, kemungkinan dia akan mendapat hidayah
Allah. Sekiranya dia telah mati, maka Nabi saw pernah bersabda
bermaksud: "Janganlah kamu mencerca orang yang telah mati…." (Riwayat
al-Bukhari)


Di tempat yang lain Allah swt berfirman maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami
turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayah, sesudah Kami
menerangkannya kepada manusia di dalam Kitab suci, mereka itu dilaknat
oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk." (al-Baqarah:159)


Diantara pengajaran ayat ini ialah dibolehkan untuk mendoakan laknat ke
atas golongan yang menyembunyikan ilmu, secara umum. Tidak didoakan
secara khusus kepada individu tertentu. Ini kerana doa secara khusus ke
atas individu tertentu tidak dibolehkan walaupun ke atas mereka yang
termasuk dalam golongan yang layak mendapat laknat. Sebabnya, tidak
diketahui bagaimanakah keadaan dia akan mati. Kemungkinan dia akan
mendapat hidayah Allah, sepertimana peringatan Allah kepada baginda Nabi
saw:

"Engkau tidak berhak sedikitpun (wahai Muhammad) Dalam urusan
(orang-orang yang ingkar) itu, (kerana urusan mereka tertentu bagi
Allah), sama ada Dia menerima taubat mereka" (ali-imran, 128).


Renungan:

Jika kita perhatikan ayat ini sebaik mungkin, maka tidak terdapat
larangan secara jelas. Tetapi ianya menunjukkan suatu adab yang tinggi
dan manhaj yang kental dalam berhadapan dengan situasi kekalahan dan
memohon pertolongan daripada Allah. Ayat ini diturunkan dalam keadaan
umat Islam berhadapan dengan situasi yang getir dalam peperangan Uhud.
Suasana ini sangat memberi kesan yang pedih kepada pejuang Islam ketika
itu. Lalu, dalam keadaan itu, Rasulullah saw berdoa keburukan ke atas
pihak musuh. Seolah-olah baginda telah menutup sinar hidayah daripada
golongan tersebut disebabkan apa yang telah mereka lakukan. Jadi,
dibimbangi kaum muslimin akan menganggap bahawa sebab utama tertewas
dalam peperangan itu disebabkan golongan musuh yang didoakan laknat itu,
bukanlah disebabkan mereka itu mengingkari arahan Rasul. Lalu diturunkan
ayat tersebut.

Kemudian disebutkan sebab yang sebenarnya disebalik kekalahan itu. Allah
swt berfirman maksudnya:

"Dan demi sesungguhnya, Allah telah menepati janjinya (memberikan
pertolongan) kepada kamu ketika kamu (berjaya) membunuh mereka
(beramai-ramai) dengan izinNya, sehingga ke masa kamu lemah (hilang
semangat untuk meneruskan perjuangan) dan kamu berbalah dalam urusan
(perang) itu, serta kamu pula menderhaka (melanggar perintah Rasulullah)
sesudah Allah perlihatkan kepada kamu akan apa yang kamu sukai
(kemenangan dan harta rampasan perang). di antara kamu ada yang
menghendaki keuntungan dunia semata-mata, dan di antara kamu ada yang
menghendaki akhirat…(Ali Imran, ayat 152).

Ayat ini menerangkan sebab yang sebenar disebalik kekalahan tersebut.
Seakan-akan Allah ingin menyatakan bahawa tidak ada manfaat jika kamu
melaknat mereka untuk meraih pertolongan dan janganlah kamu menjauhkan
mereka dari hidayah semata-mata untuk menghilangkan kesedihan kamu.

Dari sudut yang lain, kita perlu faham bahawa dalam menghadapi serangan
dan cengkaman pihak
musuh, tidak cukup sekadar berdoa dan mengutuk mereka sahaja. Tetapi,
seluruh umat ini harus bertindak dan berusaha memperjuangkan agamanya.
Semangat jihad perlu ditiupkan sentiasa dalam jiwa sanubari umat ini.
Tidak hanya sekadar duduk di atas tikar sembahyang, khusyuk berzikir
membilang biji tasbih sambil mengharapkan musuh-musuh Islam ditewaskan.
Para generasi agung salaf al-soleh adalah golongan yang soleh dan
semestinya ketaqwaan mereka jauh lebih mulia dari kita. Mereka yang
telah dijamin mendapat keredhaan Allah ini juga tidak hanya duduk di
dalam masjid beribadat dan berzikir. Tetapi, mereka tetap keluar
berdakwah, berjuang di medan jihad demi menegakkan agama. Sejarah Islam
telah mencatatkan kisah perjuangan mereka sebagai taudalan kepada
generasi seterusnya.

Marilah kita hulurkan bantuan kita kepada para pejuang yang ikhlas
membela kebenaran dan mempertahankan bumi Palestin tercinta. Biar jutaan
peluru dihambur, tetapi semangat juang mereka tidak pernah luntur. Malah
semakin banyak strategi yang disusun atur. Ramai musuh durjana yang
gugur tersungkur. Oleh itu, sokongan dan bantuan kita juga mesti
dihulur. Jangan mudah mengalah dan berasa lemah. Membaca qunut nazilah
bukan beerti menyerah kalah Berusahalah, kemudian kita pasrah dan
berserah kepada Allah yang Maha Gagah.

Wallahu'alam
Yang Benar Itu dari Allah dan Rasul
Yang Lemah dan Silap itu dari Hambanya

Tapai (Ubi/Pulut) Halal atau Haram

1 comments

“Arak ialah Alkohol dlm bentuk ethyl alcohol dan merupakan sejenis dadah
yang bertindak ke atas otak manusia dan seringkali menyebabkan ketagihan. Ia
dihasilkan oleh sel2 ragi atau yeast yg bertindak ke atas karbohidrat yang
terdpt dlm buah2an atau biji2an.”

Definisi arak sebenarnya ialah: Sesuatu yang mengandungi alkohol yang
memabukkan dan dikenali juga dengan panggilan minuman keras.

Semua arak mengandungi alkohol dari jenis ethyl alkohol atau pun nama
lainnya etanol tetapi etanol semata-mata adalah bukan arak kerana tidak ada
pun arak yang terdiri semata-mata hanya etanol. Tambahan pula etanol selain
boleh dihasilkan dari proses penapaian ragi / yeast , ia juga boleh
dihasilkan di dalam makmal tanpa melibatkan langsung proses penapaian.

Secara umumnya, arak boleh di kategorikan kepada:
1. Bir mengandungi 6% alkohol etanol
2. Wain yang mengandungi 10-20% alkohol etanol
3. Wiski yang mengandungi 35% alkohol etanol

Apa yang diharamkan oleh Islam adalah arak yang mana arak ini terdiri
daripada air, karbohidrat (glukos), mineral, vitamin dan etanol iaitu
sejenis alkohol.

Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Muslim, daripada Ibn Umar mafhumnya:
“Daripada Ibn Umar, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda; semua yang
memabukkan adalah arak, dan semua yang memabukkan adalah haram”.

Jumhur ulamak mengelaskan arak sebagai najis. Apabila arak ini dikategorikan
sebagai najis, apa yang najis bukanlah etanol sahaja yang terkandung di
dalam botol arak tetapi apa yang dihukumkan najis adalah juga keseluruhan
arak yang terdiri daripada air, karbohidrat, mineral, vitamin dan etanol.
Air di dalam arak adalah najis dan begitulah juga vitamin yang terkandung di
dalam arak. Sekiranya diasingkan air daripada minuman arak yang 100% terdiri
hanya air, ia adalah tetap di katakan najis kerana air ini berasal dari
najis arak. Sekiranya etanol dari arak ini diasingkan lalu menjadi 100%
etanol, ia tetap najis kerana berasal dari najis arak. Namun sebarang etanol
yang diperolehi selain daripada arak, ia adalah tidak najis. Kebanyakan
alkohol di makmal tidak diperolehi daripada arak.

Nasi yang dimasak pada tengahari atau petang apabila dibiarkan semalaman
lalu di makan keesokan harinya, ia sudah mengandungi sedikit alkohol.
Alkohol di dalam nasi ini boleh diasingkan melalui proses penyulingan.
Persoalannya adakah nasi yang berusia hampir 24 jam ini dihukum sebagai
haram kerana mengandungi etanol?? Hukumnya tetap halal dan masih harus
dimakan kerana nasi ini tidak memabukkan hatta kalau dimakan sebanyak 3
pinggan.

Tapai pulut dan tapai ubi sangat sedap sekali. Ia dibuat dengan memasak
pulut atau ubi sehingga masak dan setelah masak ia disejukkan pada suhu
bilik. Selepas sejuk ia dicampurkan dengan ragi yang sudah ditumbuk halus.
Kemudian ia dibungkus atau dibiarkan dalam periuk atau sebarang bekas selama
2 atau 3 hari. Menjadilah makanan ini tapai pulut atau tapai ubi. Amat manis
sekali dan sungguh menyegarkan.

Proses membuat tapai ini dinamakan Proses Penapaian di mana yeast atau ragi
tersebut menukarkan karbohidrat kanji di dalam pulut atau ubi menjadi glukos
di samping pembebasan air, karbon dioksida dan pelbagai vitamin lain sebagai
hasil sampingan. Proses penukaran karbohidrat kepada glukos ini tidak
terhenti disitu kerana ragi /yeast akan terus menukarkan glukos yang
terbentuk kepada etanol.

Daripada penjelasan ini bermakna, tapai ubi / pulut yang telah diperam
selama 2 atau 3 hari tersebut telah mengandungi air, glukos, etanol selain
vitamin dan produk lain. Persoalannya ialah adakah tapai ini haram dan najis
kerana kandungan di dalamnya adalah menyamai dengan minuman bir?

Jawapan kepada persoalan ini ialah tapai pada usia 2 atau 3 hari ini adalah
halal kerana ia bukan sesuatu yang memabukkan. Kalau minum / makan tapai
dengan kuantiti banyak pun memang ia tidak memabukkan. Tapai pada usia ini
iaitu 2 atau 3 hari hanya mengandungi sedikit kandungan alkohol etanol namun
kandungan etanol dalam tapai ini adalah lebih tinggi daripada nasi yang
sudah berumur hampir 24 jam.

Apabila tapai pulut atau tapai ubi ini dibiarkan pada suhu bilik untuk
beberapa hari lagi, lebih banyak karbohidrat kanji ditukarkan kepada glukos
dan etanol. Tapai yang sudah berusia 6 hari rasanya walaupun manis namun
terdapat rasa yang tidak enak dan rasa ini sebenarnya adalah disebabkan rasa
etanol. Pada usia tapai 6 hari ini, kandungan etanol di dalam tapai boleh
menjangkau lebih daripada 6 atau 7 peratus iaitu menyamai kandungan etanol
di dalam bir. Sekiranya kita makan tapai ini bersama airnya dalam kuantiti
satu gelas besar, insya-Allah muka akan menjadi warna kemerahan dan kepala
mula pening dan inilah yang dikatakan MABUK. Pada tahap ini tapai yang
asalnya adalah harus telah menjadi haram kerana ia memabukkan.


Bagi mereka yang ingin sekali minum arak, mereka selalu berhujah “saya tahu
bir memabukkan tetapi kalau saya minum sedikit bir pastinya ia tidak
memabukkan”. Persoalan seperti ini adalah persoalan yang diajarkan oleh
syaitan semoga manusia minum bir.

Jumhur ulamak telah memutuskan bahawa “setiap yang apabila diminum banyak
memabukkan, maka sedikit pun adalah diharamkan.” Berdasarkan ketetapan ini
maka bir adalah diharamkan sama ada ia diminum sedikit atau pun banyak.

Terdapat minuman bir tanpa alkohol dan adakah minuman ini diharuskan?? Dari
penjelasan saya di atas telah dinyatakan bahawa minuman arak adalah najis.
Najis ini merangkumi segala komponen arak ini termasuk air, glukos, etanol,
vitamin dan segala garam galiannya. Sekiranya arak yang terbentuk ini
disuling untuk mengeluarkan segala alkohol etanolnya sehingga tidak ada lagi
baki etanol dalam arak ini, umat islam tetap tidak boleh minum arak tiada
alkohol ini kerana ia adalah tetap dihukumkan sebagai najis.

Pada Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan yang diadakan di Ipoh pada
11-14 April, 1984, Majlis Fatwa telah mcngambil keputusan tentang alkohol
iaitu:
1. Setiap minuman arak mengandungi alkohol tetapi bukan semua alkohol
itu daripada arak. Alkohol daripada proses pembuatan arak hukumnya haram dan
najis tetapi alkohol yang dibuat bukan melalui proses pembuatan arak
hukumnya tidak najis tetapi haram diminum Berdasarkan keputusan ini,
pembuatan Mousy dan Malt Extract adalah haram.

2. Minuman ringan yang dibuat sama caranya dengan membuat arak sama ada
mengandungi sedikit alkohol atau alkoholnya disulingkan adalah haram
diminum.

3. Minuman ringan yang dibuat bukan untuk dijadikan arak atau bahan
yang mabuk dan tidak sama caranya dengan proses arak adalah halal.

**4. Tapai halal dimakan

5. Alkohol yang terjadi secara sampingan dalam proses pembuatan makanan
tidak najis dan boIeh dimakan.
6. Ubat-ubatan dan pewangi yang mengandungi alkohol hukumnya harus dan
dimaafkan.

** Apa yang perlu ditegaskan berhubung keputusan majlis fatwa nombor 4 di atas
yang mengatakan bahawa tapai halal dimakan adalah tidak mencukupi atau tidak
lengkap. Memanglah tapai yang berusia 2-4 hari adalah halal dimakan dan
tidak memabukkan tetapi tapai yang dibiarkan pada suhu bilik melebihi 5 atau
6 hari adalah haram dan memabukkan. Namun tapai yang dibeli dan disimpan di
dalam peti sejuk insya-Allah boleh terus dimakan walaupun berusia seminggu
kerana proses penapaian oleh ragi / yeast adalah teramat perlahan apabila
disimpan di dalam peti sejuk kerana suhunya yang rendah.


Apa yang menarik sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Islam ialah apabila
arak ini telah bertukar kepada cuka, ia menjadi halal semula. Bermula
sebagai halal iaitu pulut dan ubi serta tapai, kemudian ia bertukar kepada
haram apabila menjadi minuman memabukkan namun apabila ia bertukar kepada
cuka, ia kembali halal walau pun di dalam cuka ini mengandungi sedikit
etanol yang masih belum sempat bertukar.

Karbohidrat kanji (halal) => glukos (halal) => etanol (sedikit halal banyak
haram) => cuka (halal)

Cara-Cara Merapatkan Saf Yang Betul

0 comments

1 Merapatkan bahu dengan bahu, lutut dengan lutut, dan mata kaki dengan mata kaki sebagaimana hadis berikut:

"Dari Nu'man bin Basyir r.a. berkata: Aku melihat seseorang merapatkan bahunya dengan bahu saudaranya, merapatkan (melekatkan) lututnya dengan lutut saudaranya dan mendekatkan mata kakinya dengan mata kaki saudaranya." (Hadis Riwayat Bukhari, Kitab Azan, no. 76. Abu Daud, no. 616)

2 Meratakan/meluruskan telapak kaki dengan talapak kaki saudaranya dan meluruskan telapak kaki ke arah kiblat.

"Dari Anas bin Malik r.a. berkata, "(Pada waktu solat) masing-masing dari kami meratakan bahunya dengan bahu saudaranya dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya." (Hadis Riwayat Bukhari, no. 725)

"Baginda menghadapkan hujung-hujung kedua-dua jari-jemari kaki baginda ke arah Kiblat". (Hadis Riwayat Bukhari dan Abu Daud) Baginda s.a.w. mengarahkan jari jemari kakinya ke arah kiblat. (Rujuk: Tuntutan Rasulullah Dalam Ibadah, hlm. 19. Ibn Qaiyyim al-Jauziyah – Dinukil dari buku: Solatlah Sebagaimana Rasulullah s.a.w. Solat, Oleh Ustaz Rasul Dahri)

saf solat panduan solat berjemaah

Hukum Mempercayai SMS/Surat Berantai

0 comments

Email/surat berantai ialah email yang menceritakan tentang kelebihan-kelebihan ayat Al-Quran atau cerita mengenai agama. Asalnya email ini memang elok diforwardkan sebagai mengingati sesama taulan tetapi penulis email asalnya pula seperti mengugut jika tidak menghantar kepada orang lain kita kan dilanda musibah.

Ini yang tak betulnya kerana seolah-olah kita menganggap email/surat itu mengandungi satu kuasa sedangkan yang Maha Berkuasa ialah Allah SWT. Mempercayai benda-benda karut ini boleh membawa kepada kurafat silap-silap mahu tergelincir iman kita...

rujukan drp laman web JAKIM: http://baheis. islam.gov. my/web/musykil_ new.nsf

soalan 1:
Assalamualaikum, baru-baru ini saya kerap dapat forwad sms yg mengatakan tentang kiamat, dan nasihat supaya perbanyakkan amalan...dalam mesej tersebut dinyatakan bahawa saya mesti forward mesej kpd orang lain.

Wa'alaikumussalam wrt. wbt. Sebagai umat Islam kita wajib mempercayai adanya hari qiamat. Peringatan SMS yang diberikan untuk memperbayakkan amal ibadat merupakan peringtan yang baik, tetapi mempercayai akan ditimpa kesusahan sekiranya mesej tersebut tidak difowardkan kepada orang lain adalah sesuatu yang tidak benar dan tidak wajib dipercayai. Segala kebaikan dan keburukan adalah datang dari Allah SWT.

Soalan 2:
Assalamualaikum Saya ada menerima risalah, email dan kadang-kadang menerima sms mengenai beberapa patah ayat suci Al-Quran yang telah diterjemah ke dalam bahasa melayu supaya di hantar kepada orang lain

Menerima sebarang bentuk surat berantai yang meminta kita memanjangkan kepada orang lain dan jika tidak berbuat demikian akan menerima musibah adalah satu khurafat yang perlu dijauhi segera.Ini kerana dalam akidah Islam kita diajar bahawa sesuatu yang menimpa kita adalah daripada qadha' dan qadar Allah S.W.T.bukannya daripada mesej surat tersebut.Mempercaya i surat tersebut dibimbangi ia akan membawa kepada penyelewengan akidah.Oleh itu elakkkan diri daripada mempercayai sesuatu yang karut marut. .

Soalan 3:
Saya telah banyak kali mendapat e-mel yang mengarahkan untuk menghantar semula e-mel itu kepada seberapa banyak kenalan islam. sekiranya sy tidak menghantar e-mel itu saya akan menghadapi situasi buruk

Panel menasihatkan saudara agar tidak mempercayai email-email atau SMS sebegini kerana ianya mengandungi unsur-unsur khurafat yang boleh membawa kepada syirik. Tidak perlu sebarkan email tersebut kepada orang lain. Sebaliknya hendaklah kita berpegang kepada seruan yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah serta kitab-kitab yang muktabar. Sekiranya meyakini surat tersebut boleh menyebabkan berlakunya sesuatu musibah sekiranya tidak mengambil tindakan daripada saranan dari surat tersebut, dibimbangi membawa kepada syirik

Perkara buruk atau baik yang berlaku adalah qada' qadar dari Allah. Pemikiran manusia tidak dapat menjangkau apa yang akan berlaku pada masa akan datang atau mengetahui perkara-perkara ghaib. ugutan seperti diatas bukan dari ajaran Islam dan mempercayai sesuatu yang buruk akan berlaku dengan melakukan sesuatu yang pelik ditakuti akan membawa kepada tergelincir dari akidah Islam (syirik).

Soalan 4:
Salam saya dgn tiba2 teringat dahulu saya ada menerima surat wasiat berantai dan tanpa mengatahui jika saya mengedarkannya akan jatuh syirik. saya telah mengedarkannya. ..setelah beberapa lama saya mengucap kembali

Anda tidak tahu tentang perkara tersebut dan jika anda mengetahuinya anda cuma perlu bertaubat. Perkahwinan anda adalah sah. Tidak perlu sampai ke tahap mengucap semula.

Wallahualam